WELCOME MY BLOG

Monday, March 11, 2013

BANJIR

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dewasa ini perubahan iklim dan cuaca tidak menentu. Hal ini menyebabkan timbulnya bencana, salah satunya banjir. Bencana banjir merupakan permasalahan umum terutama di daerah padat penduduk pada kawasan perkotaan, daerah tepi pantai atau pesisir dan daerah cekungan. Masalah banjir bukanlah masalah baru bagi Kota Solo, tetapi merupakan masalah besar karena sudah terjadi sejak lama dan pada beberapa tahun terakhir ini mulai merambah ke tengah kota. Hal tersebut di atas terjadi dikarenakan adanya faktor alamiah dan perilaku masyarakat terhadap alam dan lingkungan.
Akibat pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan pada pola iklim yg akhirnya merubah pola curah hujan, makanya jangan heran kalau sewaktu-waktu hujan bisa sangat tinggi intensitasnya dan kadang sangat rendah.

Sementara itu proses terjadinya banjir sendiri pada dasarnya dikarenakan oleh faktor antroposentrik, faktor alam dan faktor teknis. Faktor antroposentrik adalah aktivitas dan perilaku manusia yang lebih cenderung mengakibatkan luasan banjir semakin meningkatnya. Beberapa faktor antroposentrik yang juga merupakan  faktor non teknis penyebab banjir pada kota Semarang, yaitu Pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan, misalnya terjadinya perubahan tata guna lahan pada daerah–daerah lindung seperti daerah perbukitan dan daerah pegunungan sehingga menimbulkan problem peningkatan run–off dan banjir kiriman. Sedangkan pembangunan ke arah pantai dengan reklamasi menyebabkan luasan rawa menjadi berkurang sehingga mengakibatkan luasan tampungan air sementara juga berkurang.


B.     Rumusan Masalah
a.         Apa  pengertian banjir.?
b.        Apa saja macam-macam banjir.?
c.         Apa saja yang menjadi penyebab terjadinya banjir.?
d.        Apa akibat yang di timbulkan oleh banjir.?
e.         Bagaimana penanganan banjir.?
f.         Dimanakah daerah-daerah rawan banjir.?

C.     Tujuan
a.       Mengetahui dampak yang disebabkan oleh bencana banjir
b.      Mengetahui macam-macam banjir
c.       Mengetahui cara penanganan banjir

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Banjir
Banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Dalam arti "air mengalir", kata ini juga dapat berarti masuknya pasang laut. Banjir diakibatkan oleh meningkatnya volume air di sungai atau danau sehingga air keluar dari bendungan atau batas alaminya. Banjir umumnya terjadi karena saluran air yang ada tidak mampu menampung limpahan air, pada daerah yang relatif datar dan dekat daerah aliran sungai (DAS). Gelombang banjir berjalan kearah hilir sistem sungai yang berinteraksi dengan kenaikan muka air dimuara akibat badai.
Di banyak daerah yang gersang di dunia, tanahnya mempunyai daya serapan air yang buruk, atau jumlah curah hujan melebihi kemampuan tanah untuk menyerap air. Ketika hujan turun, yang kadang terjadi adalah banjir secara tiba-tiba yang diakibatkan terisinya saluran air kering dengan air. Faktor yang sering menyebabkan banjir, yaitu akibat alam (curah hujan yang tinggi) dan ulah manusia yang sifatnya merusak lingkungan di sekitarnya.

B.     Penyebab Terjadinya Banjir
a.    Faktor penyebab banjir yang di sebabkan oleh manusia adalah :
1.      Ilegal Loging (penebangan hutan liar) yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan peningkatan aliran air sehingga tidak terkendali. Akibatnya, terjadi kerusakan lingkungan di daerah aliran sungai yang mengakibatkan adanya bencana banjir.
2.      Bertumpuknya sampah pada saluran air, sehingga terjadi penyumbatan pada saluran air.
3.      Kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan penanaman kembali pada daerah / hutan hutan yang baru di tebangi.
4.      Tidak adanya lagi tanah resapan untuk digunakan air sebagai tempat baginya beristirahat dikala hujan turun.
5.      Tidak ada lagi lahan hijau sebagai tempat resapan air tanah. Akibatnya, ketika hujan tiba, tanah menjadi tergerus oleh air dan kemudian air terus meluncur tanpa adanya penghalang alami yang kemudian menyebabkan banjir.
6.      Tidak adanya waduk dan danau buatan di daerah hulu dan hilir untuk menampung air hujan.
7.      Pembangunan tempat permukiman dimana tanah kosong diubah menjadi  jalan  atau tempat parkir, hingga daya serap air hujan tidak ada.
8.      Bendungan  dan saluran air rusak.
9.      Keadaan tanah tertutup semen, paving atau aspal, hingga tidak menyerap air.
10.  Di daerah batuan  daya  serap  air  sangat  kurang, mengakibatkan banjir kiriman atau banjir bandang.
11.  Erosi tanah yang menyisakan batuan, hingga tidak ada resapan air. Akibat dari erosi ini tanah menjadi padat, proses infiltrasi terganggu, banyak lapisan atas tanah yang hilang dan terangkut ke tempat-tempat yang lebih rendah, tanah yang hilang dan terangkut inilah yang menjadi sedimentasi yang dapat mendangkalkan waduk, bendungan, dan sungai. setelah terjadi seperti itu, kapasitas daya tampung dari saluran irigasi tersebut menjadi lebih kecil yang akhirnya dapat menyebabkan banjir walaupun dalam kondisi curah hujan normal. Menurut Priatna (2001) kerusakan tanah akibat terjadinya erosi dapat menyebabkan bahaya banjir pada musim hujan, pendangkalan sungai atau waduk2 serta makin meluasnya lahan-lahan kritis.
12.  Penyempitan daerah aliran sungai.
13.  Penurunan muka tanah (land subsidance) akibat penyedotan air tanah dan aktifitas pembanguan.
14.  Sistem drainase tidak memadai
15.  Belum adanya pola pengelolaan dan pengembangan dataran pesisir

b.      Faktor alam dan kondisi alam penyebab terjadinya banjir adalah:
1.      Banjir umumnya terjadi karena saluran air yang ada tidak mampu menampung limpahan air, pada daerah yang relatif datar dan dekat daerah aliran sungai (DAS). Sementara itu, longsor terjadi pada daerah-daerah pegunungan, berlereng terjal, dan tanah yang relatif subur sehingga akan menyebabkan banjir bandang karena terbawanya tanah, batuan, dan pohon yang ikut longsor. Keduanya sering terjadi oleh faktor yang sama, yaitu akibat alam (curah hujan yang tinggi) dan ulah manusia yang sifatnya merusak lingkungan di sekitarnya.
2.      Meningkatnya permukaan air laut.
3.      Akibat adanya longsor, Misal di daerah Pegunungan Argapuro, Jember yang terjadi longsor dan banjir. Batuan induk seperti breksi andesit yang bersifat keras, padat, dan tidak tembus air. Batuan hasil pelapukan berukuran halus, tidak kompak, mudah retak-retak bila kering, mudah ditembus air, dan mengembang bila basah. Kontak antara kedua batuan tersebut berfungsi sebagai bidang gelincir longsor. Kadar air yang tinggi dalam batuan berpengaruh terhadap kestabilan batuan lapukan tersebut, apalagi letaknya pada lereng berkemiringan besar. Air hujan yang masuk ke dalam batuan lapuk, terutama melalui retakan dan rekahan, mengalir sesuai kemiringan medannya dengan batuan kerasnya bertindak sebagai alas. Besar dan lamanya curah hujan yang jatuh memicu terjadinya longsoran yang cepat, meluncur dan menyeret apa saja yang diterjangnya. Pohon dengan akar yang dangkal masih kurang mampu untuk menahan tanah tersebut supaya tidak bergerak, sehingga mudah longsor bila terkena curah hujan tinggi yang ditunjang tingkat kelerengan yang curam. Topografi di daerah hulu Pegunungan Argopuro sebagai pusat longsor sangat curam sehingga. Tingkat kelerengan daerah tersebut lebih dari 60o , sehingga sangat rawan terhadap gerakan tanah. Topografi sangat curam sampai curam menyebabkan kecepatan banjir bandang yang terdiri dari campuran air, tanah dan pohon-pohon yang tercabut bergerak dengan kecepatan sangat tinggi. Kondisi vegetasi di daerah hulu sungai sebagai awal pusat-pusat longsor pertama relatif baik. Daerah tersebut sebagai hutan lindung yang ditanam pada topografi curam. Pada bagian tengah pegunungan sudah mulai banyak ditanam perkebunan kopi, teh dan juga perkebunan rakyat, sehingga kurang bisa mendukung dalam menstabilkan tanah terhadap bahaya longsor dan erosi. Rekahan atau retakan baru banyak terjadi di daerah hulu dan tengah pegunungan pasca bencana longsor dan banjir bandang. Rekahan dan retakan tersebut sangat berbahaya apabila terisi oleh air yang menyebabkan menurunnya kestabilan tanah. Longsor susulan yang juga bisa menyebabkan banjir bandang susulan kemungkinan bisa terjadi apabila terjadi curah hujan yang cukup tinggi.
4.      Badai  juga dapat menyebabkan banjir melalui beberapa cara, di antaranya melalui ombak besar yang tingginya bisa mencapai 8 meter. Selain itu badai juga adanya presipitasi yang dikaitkan dengan peristiwa badai. Mata badai mempunyai tekanan yang sangat rendah, jadi ketinggian laut dapat naik beberapa meter pada mata guntur. Banjir pesisir seperti ini sering terjadi di Bangladesh.
5.      Gempa bumi dasar laut maupun letusan pulau gunung berapi yang membentuk kawah (seperti Thera atau Krakatau) dapat memicu terjadinya gelombang besar yang disebut tsunami yang menyebabkan banjir pada daerah pesisir pantai.
6.      Meluapnya air sungai karena kemiringan dasar saluran kecil dan kapasitas aliran sungai tidak memadai.
7.      Sedimentasi, pendangkalan dan penyempitan sungai.

C.    Jenis-jenis Banjir
a.    Banjir Bandang
Banjir bandang adalah banjir besar yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung hanya sesaat yang yang umumnya dihasilkan dari curah hujan berintensitas tinggi dengan durasi (jangka waktu) pendek yang menyebabkan debit sungai naik secara cepat. Contoh banjir bandang adalah di Bahorok, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Banjir itu terjadi pada tanggal 2 November 2003 dengan dengan korban jiwa sebanyak 151 jiwa dan korban hilang mencapai 101 jiwa.
Banjir bandang umumnya dari sekian banyak kejadian, sebagian besar diawali oleh adanya longsoran di bagian hulu sungai. Kemudian, material longsoran dan pohon-pohon menyumbat sungai dan menimbulkan bendung-bendung alami. Selanjutnya, bendung alami tersebut ambrol/roboh dan mendatangkan air bah dalam volume besar dalam waktu yang sangat singkat. Banjir bandang dengan debit puncak tinggi disertai aliran kayu-kayuan dan batu-batuan yang terjadi dengan kecepatan tinggi dan waktu relatif singkat, kembali menggoncang persada Indonesia.
Banjir bandang melanda Wasior pada 4 Oktober 2010 Kabupaten Teluk Wondarma, Provinsi Papua Barat terkena bencana alam banjir bandang. Data yang dihimpun Tim Tanggap Darurat Bencana Banjir Bandang Wasior Badan Geologi menyebutkan, kondisi geologi wilayah terkena bencana, morfologi Pegunungan Wandiboy umumnya mempunyai kemiringan lereng yang curam dan terjal serta dataran pantai yang sempit yang memanjang dari utara ke selatan.
Selain itu, jenis batuan sepanjang Pegunungan Wondiboy berumur tua dan homogen, serta lapisan lapuknya tipis. Batuan berupa batuan metamorf berupa genes (gneis) kuarsa yang sifatnya mudah hancur dan batuannya mudah pecah. Struktur geologi yang berkembang berupa patahan (sesar) yang memanjang dari utara sampai selatan di bagian puncak dan kaki pegunungan bagian barat. Keberadaan sesar tersebut mengakibatkan terbentuknya daerah (zona) hancuran yang rentan terhadap longsor oleh hujan dan guncangan gempa bumi.
Diketahui pula pemicu utama banjir Bandang Wasior Papua Barat adalah curah hujan yang tinggi dan lama. Curah hujan sepuluh jam terakhir sebelum kejadian mencapai 179 mm. Kondisi curah hujan ini jauh diatas normal (ekstrim) dari rata-rata 200 mm per bulan. Curah hujan ekstrim memicu longsoran-Iongsoran di daerah lereng terjal dan menyeret pepohonan, kemudian bahan rombakan ini mengalir ke alur lembah sungai yang berkelok-kelok mengalami hambatan dan terjadi pembendungan. Bahan rombakan yang terdiri dari air, batuan lepas, dan batang pohon dapat membendung alur sungai di beberapa bagian. Kemudian curah hujan yang tinggi menyebabkan bendung yang terbentuk tidak kuat menahan beban akhirnya jebol. Dalam perjalanannya material yang mengalir semakin ke bawah menggerus dan menyeret batuan yang dilaluinya dan pohon yang tumbuh disepanjang pinggiran aliran sungai.

b.    Banjir Hujan Extrim
Banjir ini biasanya terjadi hanya dalam waktu 6 jam sesudah hujan lebat mulai turun. Biasanya banjir ini ditandai dengan banyaknya awan yang menggumpal di angkasa serta kilat atau petir yang keras dan disertai dengan badai tropis atau cuaca dingin. Umumnya banjir ini akibat meluapnya air hujan yang sangat deras, khususnya bila tanah bantaran sungai rapuh dan tak mampu menahan cukup banyak air. penyebabnya antara lain adalah:

a.       kegagalan bendungan menahan volume air (debit) yang meningkat,
b.       es yang tiba-tiba meleleh atau,
c.        berbagai perubahan besar lainnya di hulu sungai.

Kerawanan terhadap banjir kilat akan meningkat bila wilayah itu merupakan lereng curam, sungai dangkal dan pertambahan volume air jauh lebih besar daripada yang tertampung, air mengalir melalui lembah-lembah sempit dan bila hujan guntur terjadi.

c.     Banjir luapan sungai atau kiriman
Jenis banjir ini biasanya berlangsung dalam waktu lama dan sama sekali tidak ada tanda-tanda gangguan cuaca pada waktu banjir melanda dataran – sebab peristiwa alam yang memicunya telah terjadi berminggu-minggu sebelumnya. Data sejarah banjir luapan sungai yang melanda kota-kota di lembah utama membuktikan bahwa tindakan-tindakan perlindungan tidak bisa diandalkan, akibat beranekaragamnya sumber banjir, yang bukan hanya dari induk sungai melainkan juga dari anak-anak sungai. Di bawah ini adalah gambar tentang Pemukiman di sempadan sungai, bahaya pada saat banjir bandang. Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Jenis banjir ini terjadi setelah proses yang cukup lama. Datangnya banjir dapat mendadak. Banjir luapan sungai ini kebanyakan bersifat musiman atau tahunan dan bisa berlangsung selama berhari- hari atau berminggu-minggu tanpa berhenti. Jenis banjir ini terjadi sepanjang sungai dan anak-anak sungainya dan membanjiri wilayah luas. dan mendorong peluapan air lembah-lembah sungai yang mandiri (yang bukan merupakan anak sungainya) banjir yang meluap dari sungai-sungai selain induk sungai.

d.    Banjir Pantai (ROB)
                        Banjir yang disebabkan angin puyuh laut atau taifun dan gelombang pasang air laut. Rob atau banjir air laut adalah banjir yang diakibatkan oleh air laut yang pasang yang menggenangi daratan, merupakan permasalahan yang terjadi di daerah yang lebih rendah dari muka air laut. Di Semarang permasalahan Rob ini telah terjadi cukup lama dan semakin parah karena terjadi penurunan muka tanah sedang muka air laut meninggi sebagai akibat pemanasan suhu bumi. Rob menjadi permasalahan di kota-kota seperti Semarang, Jakarta serta kota-kota yang berada di Pantura Jawa dan akan menjadi permasalahan besar dikemudian hari sejalan dengan pemanasan suhu dunia dan tidak terkendalinya penyedotan air tanah sehingga muka tanah turun.
Faktor utama penyebab bencana banjir rob adalah berubahnya fungsi lahan menjadi daerah permukiman. Selain itu juga disebabkan oleh kondisi geologi yang meliputi geomorfologi, sifat lapisan tanah atau batuan dan pola aliran sungainya. Alternatif antisipasinya dapat dilakukan secara non-teknik dan teknik. Antisipasi nonteknik yaitu dengan penyuluhan masyarakat tentang lingkungan dan kesehatan kawasan pantai. Sedangkan untuk tekniknya dilakukan dengan perbaikan saluran, reboisasi dan pembuatan "polder" penampung air genangan.

e.     Banjir Hulu
            Banjir yang terjadi di wilayah sempit, kecepatan air tinggi, dan berlangsung cepat dan jumlah air sedikit. Banjir hulu harus dicegah dengan menbuat danau-danau buatan yang dapat menampung air hujan yang sewaktu-waktu terjadi agar air hujan tidak mengalir ke bagian hilir karena dapat menyababkan banjir juga di daerah hilir.

f.       Banjir Lahar
Terjadi pada erupsi gunung berapi selama musim penghujan. Tingginya curah hujan yang jatuh di atas timbunan material vulkanik, akan mengalirkan material vulkanik tersebut ke daerah-daerah yang lebih rendah dan bisa menimbulkan bencana yang tidak kalah bahayanya dari bahaya primer erupsi.

D.    Dampak
a.    Dampak  primer
Kerusakan fisik - Mampu merusak berbagai jenis struktur, termasuk jembatan, mobil, bangunan, sistem selokan bawah tanah, jalan raya, dan kanal

b.    Dampak sekunder
a.       Persediaan airKontaminasi air. Air minum bersih mulai langka.
b.       Penyakit - Kondisi tidak higienis. Penyebaran penyakit bawaan air.
c.        Pertanian dan persediaan makanan - Kelangkaan hasil tani disebabkan oleh kegagalan panen.  Namun, dataran rendah dekat sungai bergantung kepada endapan sungai akibat banjir demi menambah mineral tanah setempat.
d.       Pohon - Spesies yang tidak sanggup akan mati karena tidak bisa bernapas.
e.        Transportasi - Jalur transportasi hancur, sulit mengirimkan bantuan darurat kepada orang-orang yang membutuhkan.

c.    Dampak tersier/jangka panjang
Ekonomi - Kesulitan ekonomi karena penurunan jumlah wisatawan, biaya pembangunan kembali, kelangkaan makanan yang mendorong kenaikan harga, dll.

E.     Antisipasi Banjir
a.    Secara filosofis, ada tiga metode penanggulangan banjir, yaitu:
Pertama, memindahkan warga dari daerah rawan banjir. Walau setiap tahun rumahnya terendam banji tetpi kebanyakan warga tidak mau pindah dan tetap menetap di daerah yang rawan banjir itu sehingga dapat menyusahkan diri sendiri.
Kedua, memindahkan banjir keluar dari warga. Normalisasi sungai, mengeruk endapan lumpur, menyodet-nyodet sungai. Faktanya banjir masih terus akrab melanda permukiman warga.
Ketiga, hidup akrab bersama banjir. Membangun rumah-rumah panggung setinggi di atas muka air banjir.

b.  Secara normatif, ada dua metode penanggulangan banjir, yaitu:
Pertama, metode struktur, yaitu dengan konstruksi teknik sipil, antara lain membangun waduk di hulu, kolam penampungan banjir di hilir, tanggul banjir sepanjang tepi sungai, sodetan, pengerukan dan pelebaran alur sungai, sistem polder, membuat sumur resapan yang bisa bermanfaat bagi warga apabila terjadi kekeringan karena tedapat sumur resapan sehingga air hujan bisa tertampung di sumur tersebut serta pemangkasan penghalang aliran. Anggaran tak seimbang  dalam pertemuan-pertemuan antar pemangku kepentingan (stakeholder) tentang penanggulangan banjir, telah ada political will dari pemerintah, yaitu akan melaksanakan penanggulangan banjir secara hibrida, dengan melaksanakan gabungan metode struktur dan non-struktur secara simultan.
Bahkan, telah dibuat dalam perencanaan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Namun, dalam implementasinya, penanggulangan banjir yang dilakukan pemerintah masih sangat sektoral, alokasi anggaran antarsektor tidak seimbang. Anggaran penanggulangan banjir metode struktur alias konstruksi teknik sipil lebih besar dibandingkan dengan anggaran metode nonstruktur yang lebih berbasis masyarakat.
Kedua, penanggulangan banjir dengan metode nonstruktur berbasis masyarakat tidak kalah pentingnya. Pertama,  berupa manajemen di hilir di daerah rawan banjir, antara lain pembuatan peta banjir, membangun sistem peringatan dini bencana banjir, sosialisasi sistem evakuasi banjir, kelembagaan penanganan banjir, rekonstruksi rumah akrab banjir, peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan banjir, serta kemungkinan asuransi bencana banjir. Kedua, berupa manajemen di hulu daerah aliran sungai, antara lain pengedalian erosi, pengendalian perizinan pemanfaatan lahan, tidak membuang sampah dan limbah ke sungai, kelembagaan konservasi, pengamanan kawasan lindung, peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan konservasi.

F.     Daerah Rawan Banjir
a.         Di daerah dekat sungai, utamanya bantaran serta lembah-lembah yang paling berisiko terhadap terjangan banjir.

b.        Di pesisir pantai, Daerah pantai menjadi rawan banjir disebabkan daerah tersebut merupakan dataran rendah yang elevasi muka tanahnya lebih rendah atau sama dengan elevasi air laut pasang rata-rata (Mean Sea Level / MSL). Potensi banjir berasal dari aliran sungai yang bermuara di pantai dan terjadinya pasang air laut.


c.         Kota Solo sebagai daerah cekungan antar pegunungan atau perbukitan (intermountain basin) menjadi tempat berkumpulnya air, sehingga secara genetik Kota Solo memang rawan banjir. Kota Solo dikelilingi pegunungan dan perbukitan, di sebelah barat tampak Gunung Merapi dan G. Merbabu, sebelah selatan Pegunugan Selatan, sebelah timur G. Lawu, dan sebelah utara Perbukitan Kendeng. Air hujan yang jatuh pada pegunungan dan perbukitan tersebut khususnya pada lereng yang menghadap ke arah Kota Solo, akan mengalir menuju Kota Solo. Pada saat tertentu saat terjadi hujan ekstrem (> 60 mm/hari) dengan durasi yang cukup lama seperti akhir Desember tahun 2007, dimungkikan terjadi banjir di Kota Solo.

d.        Kota Semarang dengan karakteristik wilayah tersebut berpotensi terhadap terjadinya bencana alam dengan dominasi bencana banjir, rob dan tanah longsor.  Bila ditelaah lebih jauh, ketiga macam bencana di Semarang ini saling terkait, dengan sebab baik karena kondisi awal alamnya maupun karena dampak pembangunan.
         Banjir sering terjadi di sekitar aliran sungai dan di bagian utara kota yang morfologinya berupa dataran pantai.  Kawasan potensi bencana banjir secara umum diklasifikasikan menjadi:
1.      Kawasan Pesisir/ Pantai merupakan salah satu kawasan rawan banjir karena kawasan tersebut merupakan dataran rendah dimana ketinggian muka tanahnya lebih rendah atau sama dengan ketinggian muka air laut pasang rata-rata (Mean Sea Level, MSL), dan menjadi tempat bermuaranya sungai-sungai. Di samping itu, kawasan pesisir/pantai dapat menerima dampak dari gelombang pasang yang tinggi, sebagai akibat dari badai angin topan atau gempa yang menyebabkan tsunami.

2.      Kawasan Dataran Banjir (Flood Plain Area) adalah daerah dataran rendah di kiri dan kanan alur sungai, yang kemiringan muka tanahnya sangat landai dan relatif datar.
Aliran air dari kawasan tersebut menuju sungai sangat lambat, yang mengakibatkan potensi banjir menjadi lebih besar, baik oleh luapan air sungai maupun karena hujan lokal. Kawasan ini umumnya terbentuk dari endapan sedimen yang sangat subur, dan terdapat di bagian hilir sungai.  Seringkali kawasan ini merupakan daerah pengembangan kota, seperti permukiman, pusat kegiatan ekonomi, perdagangan, industri dan lain sebagainya. Kawasan ini bila dilalui oleh sungai yang mempunyai Daerah Aliran Sungai (DAS) cukup besar, seperti Kali Garang/ Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur di Kota Semarang, memiliki potensi bencana banjir yang cukup besar juga, karena debit banjir yang cukup besar yang dapat terbawa oleh sungai  tersebut. Potensi bencana banjir akan lebih besar lagi apabila terjadi hujan cukup besar di daerah hulu dan hujan lokal di daerah tersebut, disertai pasang air laut.

3.      Kawasan Sempadan Sungai merupakan daerah rawan bencana banjir yang disebabkan pola pemanfaatan ruang budidaya untuk hunian dan kegiatan tertentu.

4.      Kawasan Cekungan merupakan daerah yang relatif cukup luas baik di daerah dataran rendah maupun dataran tinggi (hulu sungai) dapat menjadi daerah rawan bencana banjir. Pengelolaan bantaran sungai harus benar-benar dibudidayakan secara optimal, sehingga bencana dan masalah banjir dapat dihindarkan.   

Potensi banjir di Kota Semarang sebagian besar berada di daerah pesisir/pantai dan daerah sempadan sungai,  berdasarkan aspek penyebabnya, jenis banjir yang ada dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu: banjir limpasan sungai/banjir kiriman; banjir lokal; dan banjir pasang (rob).
Banjir pasang (rob) ini terjadi karena pasang air laut yang relatif lebih tinggi daripada ketinggian permukaan tanah di suatu kawasan. Biasanya terjadi pada kawasan di sekitar pantai. Penurunan tanah disebabkan empat hal, yaitu eksploitasi air tanah berlebihan, proses pemampatan lapisan sedimen (yang terdiri dari batuan muda) ditambah pembebanan tinggi oleh bangunan di atasnya serta pengaruh gaya tektonik. Dampak penurunan tanah dapat dilihat adanya luasan genangan rob yang semakin besar.
Selain banjir, bencana yang berkaitan dengan musim hujan adalah longsor. Kota Semarang pada beberapa wilayah menunjukkan potensi bencana longsor yang mengancam masyarakat yang juga perlu mendapatkan perhatian.
Perubahan iklim global berpengaruh terhadap kondisi iklim di Kota Semarang, musim kemarau menjadi lebih panjang daripada musim hujan sehingga menyebabkan kekeringan di daerah dengan cadangan air tanah yang minimum. Sebagian besar daerah yang mengalami kekeringan terdapat di Semarang atas. Berdasarkan data yang ada pada Buku Rencana Aksi Nasional  2010-2014, potensi bencana yang ada di Kota Semarang adalah  banjir, kekeringan, longsor, kebakaran hutan, erosi,  kebakaran gedung dan permukiman dan risiko cuaca ekstrim.

e.       Wilayah NAD secara umum dibagi menjadi 13 satuan wilayah pengelolaan DAS, dengan karakteristik spesifik yang berbeda ditinjau dari bentuk, topografi dan tutupan lahannya. Dilihat dari bentuk DAS nya saja secara sekilas kita dapat dengan mudah memahami bahwa DAS Krueng Aceh, DAS Teunom Woyla dan DAS Singkil adalah bentuk DAS yang sangat rawan bencana Banjir (lihat Gambar 1a). DAS tersebut memiliki cakupan yang luas pada bagian hulunya dan bermuara pada satu atau dua sungai utama dengan wilayah muara yang sempit. Pengamatan geofisik DAS Krueng Aceh menunjukkan betapa rawannya Kota Banda Aceh terhadap bahaya banjir.

BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Cuaca dan iklim yang tidak menentu menyebabkan musim hujan maupun musim kemarau sulit diprediksi. Gerakan gelombang laut yang tinggi juga mempengaruhi banjir dipesisir pantai misalnya saja terjadinya tsunami sehingga akan terjadi banjir bandang karena permukiman disekitar pantai akan rusak dan hanyut dibawa air laut tersebut. Adanya penggundulan hutan baik untuk pembukaan lahan pertanian, illegaloging, dan yang lainnya menyebabkan kurangnya daerah resapan air ketika musim hujan tiba. Air hujan langsung mengalir ke sungai dan sungai tidak dapat menampung debit air yang terlalu banyak dan akhirnya akan meluap ke daerah sekitar sungai bahkan dapat sampai ke permukiman penduduk. Banjir pada umumnya terjadi di daerah perkotaan, yang mana tidak ada daerah resapan air hujan. Dalam hal ini, peran masyarakat dan pemerintah sangat penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang dikawasan rawan bencana banjir dilaksanakan melalui upaya penanggulangan untuk meminimalkan dampak akibat bencana yang mungkin timbul. Kondisi ini tidak bisa dipisahkan dari pola pengendalian pemanfaatan ruang di bagian hulu, dalam lingkup satuan wilayah sungai. Sasaran yang akan dicapai adalah terwujudnya pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan rawan bencana banjir, termasuk mekanisme perijinan pemanfaatan ruang sesuai dan mendukung upaya penerapan rencana pemanfaatan ruang, dan prosedur penanganan yang tepat.
Terkait dengan kawasan rawan bencana banjir (KRB), kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang dilaksanakan melalui upaya penanggulangan untuk meminimalkan dampak akibat bencana yang mungkin timbul. Kondisi ini tidak bisa dipisahkan dari pola pengendalian pemanfaatan ruang di bagian hulu, dalam lingkup satuan wilayah sungai.

B.     Saran
a.       Di lokasi bekas banjir terutama banjir bandang sebaiknya tidak dimanfaatkan lagi untuk permukiman, permukiman di sekitar lokasi bekas banjir bandang sebaiknya direlokasi ke tempat lain yang lebih aman.
b.      Perlu dilakukan reboisasi (penghutanan kembali) dengan tanaman keras yang berakar kuat pada daerah-daerah yang telah rusak karena tanaman yang di tebang secara liar.
c.       Perlu dilakukan pemetaan zona kerawanan banjir.
d.      Membangun suatu sistem tanggap darurat (emergency respose system) berbasis GIS untuk mengambil tindakan yang tepat setelahterjadi bencana, misalnya mengetahui potensi korban, akses jalan menuju ke lokasi, usulan daerah untuk relokasi dsb.
e.       Membangun sistem informasi berbasis spasial dengan mingentegrasikan teknologi remote sensing dan GIS
f.       Pemanfatan lahan di lereng-lereng bukit yang curam sampai sangat curam untuk perkebunan kopi, teh dan tanaman pisang sebaiknya segera dihentikan mengingat akarnya kurang kuat untuk menahan tanah hasil pelapukan batuan.

DAFTAR PUSTAKA

b.      www.yahoo.com
c.       www.google.com



 

2 comments: