WELCOME MY BLOG

Wednesday, December 19, 2012

DEGRADASI LAHAN


DEGRADASI LAHAN
AKIBAT PENCEMARAN LIMBAH PABRIK TEKSTIL
PT BATIK KERIS SUKOHARJO

PENDAHULUAN

Sekarang – sekarang ini banyak terjadi fenomena alam di sekitar kita. Tanpa kita sadari fenomena alam itu telah mengahimpiri kita seperti bencana alam banjir, longsor, gunung meletus dan masih banyak lagi. Bencana alam ini dapat disebabkan karena proses alami dan akibat aktifitas manusia. Dengan adanya bencana alam ini dapat menyebabkan degradasi lingkungan, dimana akan mempengaruhi kualitas tanah, kualitas air, dan lingkungan sekitar.
            Degradasi lingkungan ini dapat terjadi dimanapun, karena di setiap aktifitas manusia pasti akan menimbulkan atau mengakibatkan degradasi (penurunan). Sebagai contoh kita dapat mengetahui bahwa setiap harinya manusia pasti akan mengahasilkan sampah, dimana sampah tersebut dapat mengakibatkan degradasi lahan (penurunana kualitas tanah) jika sampahnya plastik yang tidak mudah terurai, hal ini berbeda dengan limbah yang dihasilkan oleh pabrik.
            Dalam perkembangan teknologi yang semakin maju dan banyaknya industri dapat menyebabakan degradasi lingkungan dimana banyak pembangunan pabrik yang tidak terkontrol dan tidak mempertimbangkan akibatnya seperti imbah yang akan di hasilkan. Limbah yang di hasilkan pabrik dapat menyebabkan penurunan kualitas tanah dan penurunan kualitas air. Jika hali ini berlangsung teruss menerus maka akan mempengaruhi penduduk setempat. Limbah pabrik mengakibatkan pencemaran air di sungai dengan berubahnya warna sungai menjadi warna tekstil, misalnya merah, biru, kuning dll. Serta juga dapat mempengaruhi kualitas lahan khususnya pertanian dimana lahan tersebut digunakan untuk menanam makanan pokok kita. Jika pemilik pabrik tidak mempertimbangkan hal ini bagaimana nasib kita kedepannya, jika kita mengkonsumsi makanan dari lahan yang tercemar tersebut. Ini juga mengurangi produktifitas lahan.

PEMBAHASAN

Fenomena alam yang pencemaran oleh limbah pabrik tekstil menyebabkan degradasi lahan. Degradasi lahan merupakan proses geomorfologi yang cenderung menurunkan permukaan bumi. Penurunan permukaan bumi dapat terjadi akibat erosi dan mass wasting. Degradasi lahan dapat dipicu oleh beberapa faktor yang bersifat alami dan aktivitas manusia.
Barrow (1991) mendefinisikan degradasi lahan sebagai hilangnya atau berkurangnya kegunaan atau potensi kegunaan lahan untuk mendukung kehidupan. kehilangan atau perubahan kenampakkan tersebut menyebabkan fungsinya tidak dapat diganti oleh yang lain. Degradasi lahan akan berdampak baik bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Degradasi lahan akan mengakibatkan penurunan produktivitas, migrasi, ketidakamanan pangan, bahaya bagi sumberdaya dan ekosistem dasar, serta kehilangan biodiversitas melalui perubahan habitat baik pada tingkat spesies maupun genetika. Selain itu degradasi lahan akan berdampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang bergantung pada lahan sebagai sumber penghidupannya berupa meningkatnya angka kemiskinan. Degradasi lahan adalah proses penurunan proses produktivitas lahan, baik yang sifatnya sementara maupun tetap
Degradasi lahan secara umum disebabkan oleh proses alami dan akibat aktivitas manusia. Barrow (1991) secara lebih rinci menyatakan bahwa faktor-faktor utama penyebab degradasi lahan adalah:
a)      Bahaya alami
b)      Perubahan jumlah populasi manusia
c)      Marjinalisasi tanah
d)     Kemiskinan
e)      Status kepemilikan tanah
f)       Ketidakstabilan politik dan masalah administrasi
g)      Kondisi sosial ekonomi
h)      Masalah kesehatan
i)        Praktek pertanian yang tidak tepat, dan
j)        Aktifitas pertambangan dan industri.

Degradasi lahan disebabkan oleh 3 (tiga) aspek, yaitu aspek fisik, kimia dan biologi. Degradasi secara fisik terdiri dari pemadatan, pengerakan, ketidakseimbangan air, terhalangnya aerasi, aliran permukaan, dan erosi. Degradasi kimiawi terdiri dari asidifikasi, pengurasan unsur hara, pencucian, ketidakseimbangan unsur hara dan keracunan, salinisasi, dan alkalinisasi. Sedangkan degradasi biologis meliputi penurunan karbon organik tanah, penurunan keanekaragaman hayati tanah, dan penurunan karbon biomas.
Proses degradasi lahan dapat mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Terjadinya pencemaran dapat menyebabkan tanah menjadi tidak subur sehingga tidak dapat ditanami. Akibatnya produksi pertanian akan menurun dan biaya produksi akan meningkat karena perlu penanganan khusus. Jika biaya produksi pertanian tinggi dan hasilnya menurun berimbas terhadap petani akan merugi. Dampak degradasi lahan juga dapat terjadi di lingkungan kota maupun desa.
Kerusakan lingkungan yang terjadi di kota disebabkan salah satu karena besarnya arus urbanisasi. Kebiasaan penduduk membuang sampah di mana-mana menjadi kebiasaan buruk masyarakat perkotaan. Minimnya daur ulang sampah di kota mengakibatkan bermacam-macam kerusakan. Diantaranya tidak tersedianya air minum dan tempat tinggal yang bersih. Hal tersebut dapat menyebabkan terjangkitnya berbagai macam penyakit seperti kolera dan demam berdarah.
Kerusakan lingkungan kota lainnya adalah terjadinya banjir dan kenaikan jumlah penduduk yang mengakibatkan meningkatnya pengangguran dan kriminalitas. Sedangkan kerusakan lingkungan di pedesaan terlihat adanya perluasan lahan pertanian dengan cara-cara yang tidak tepat, seperti penebangan hutan secara liar. Hutan mempunyai fungsi sebagai pelindung tanah. Ketika hutan berfungsi lagi maka terjadilah erosi yang sangat merugikan bagi masyarakat di sekitarnya.
Sekarang ini tidak dikota maupun di desa sama saja sudah banyak pencemaran air dan pencemaran tanah yang diakibatkan oleh limbah pabrik. Sebagai contoh PT Batik Keris, dimana pabrik ini merupakan pabrik tekstil yang ada di sukoharjo. Pabrik ini mengolah bahan mentah menjadi barang jadi, sehingga dapat kita ketahui pasti ada limbah yang dihasilkan oleh pabrik tersebut.
Pabrik PT Batik keris ini terletak di tengah – tengah permukimana warga setempat dan dekat dengan sungai, sehingga limbah dari pabrik ini dapat mencemari kualitas air yang ada di sekitar pabrik tersebut. Misalnya limbah tersebut mempengaruhi warna air sungai terdekat.
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan, dan air tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Akibat dari pencemaran air sangat merugikan yaitu: dapat menyebabkan banjir, erosi, kekurangan sumber air, membuat sumber penyakit, tanah longsor,dapat merusak ekosistem sungai, kerugian untuk nelayan. Pencemaran air disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Salah satu sebab pencemaran air adalah pencemaran air karena limbah industri tekstil. Untuk itu saya akan membahas mengapa limbah industri tekstil bisa menyebabkan pencemaran air.
        Pencemaran lingkungan akibat industri tekstil di PT Batik Keris adalah berupa pencemaran debu yang dihasilkan dari penggunaan mesin berkecepatan tinggi dan limbah cair yang berasal dari tumpahan dan air cucian tempat pencelupan larutan kanji dan proses pewarnaan. Zat warna tekstil merupakan gabungan dari senyawa organic tidak jenuh, kromofor, dan auksokrom sebagai pengaktif kerja kromofor dan pengikat antara warna dengan serat. Kandungan limbah yang dihasilkan dari proses pewarnaan tergantung pada pewarna yang digunakan. Limbah-limbah yang dihasilkan suatu industri, akan dialirkan ke kolam-kolam penampungan dan selanjutnya dibuang ke sungai. Limbah tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkanjian, penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnaan, pencetakan dan proses penyempurnaan.
Gabungan air limbah pabrik tekstil di Indonesia rata-rata mengandung 750 mg/l padatan tersuspensi dan 500 mg/l BOD. Perbandingan COD : BOD adalah dalam kisaran 1,5 : 1 sampai 3 : 1. Pabrik serat alam menghasilkan beban yang lebih besar. Beban tiap ton produk lebih besar untuk operasi kecil dibandingkan dengan operasi modern yang besar, berkisar dari 25 kg BOD/ton produk sampai 100 kg BOD/ton. Informasi tentang banyaknya limbah produksi kecil batik tradisional belum ditemukan.
Jenis-jenis limbah :
a)      Logam berat terutama As, Cd, Cr, Pb, Cu, Zn.
b)      Hidrokarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan finishing)
c)      Pigmen, zat warna dan pelarut organic
d)     Tensioactive (surfactant)

Terjadinya pencemaran air, akan menggangu kehidupan ikan-ikan yang ada di dalamnya, menurunnya kualitas perairan, sehingga daya dukung perairan tersebut terhadap organisme akuatik yang hidup di dalamnya akan turun. Masalah pencemaran air menimbulkan berbagai akibat, baik yang bersifat biologic, fisik maupun kimia.
Oleh karena itu kita harus menjaga lingkungan-lingkungan disekitar kita agar tidak tercemar, terutama air, karena air sangat penting untuk membantu melakukan kegiatan sehari-hari. Dan untuk pabrik-pabrik yang menimbulkan limbah sebaiknya tidak di buang sembarangan selain itu limbah juga bisa diolah supaya tidak membuat air tercemar.
PT Batik Keris harus mempertimbangkan juga dengan limbah yang akan di hasilkan itu mempengaruhi penduduk sekitar atau tidak. Pengolahan limbah itu harus melalui proses terlebih dahulu sebelum di buang atau di alikan ke sungai untuk meminimalisir pencemaran sungai yang akan diakibatkannya.
Bahan – bahan yang digunakan untuk membuat produk tekstil juga mengandung bahan – bahan berbahaya. Limbah tekstil diketahui memiliki padatan tersuspensi dalam jumlah yang banyak, warna yang kuat, pH yang sangat berfluktuatif, suhu tinggi dan konsentrasi COD yang tinggi. Polutan utama dalam limbah tekstil berasal dari proses pewarnaan dan finishing yang melibatkan pewarna baik sintetis maupun alami agar dihasilkan warna yang permanen.
Banyak metode yang digunakan dalam perlakuan limbah tekstil. Metode-metode tersebut diantaranya koagulasi kimia, oksidasi elektrokimia, filtrasi dan biologi. Beberapa metode dikembangkan baik secara individu maupun kombinasi. Proses-proses individu memiliki banyak problema. Sebagai contoh, dalam proses koagulasi kimia sejumlah besar Lumpur dapat dihasilkan dan kapabilitas perlakuan rendah. Oksidasi elektrokimia dapat mereduksi polutan namun meningkatkan biaya perlakuan. Perlakuan biologis lebih sulit karena membutuhkan bioreaktor spesifik. Oleh sebab itu kombinasi proses dianggap lebih baik.
Isolat mikroorganisme (Aeromonas sp dan Pseudomonas sp) dapat mengurangi pewarna dari limbah cair secara efektif dan tidak membutuhkan kolam Lumpur aktif sehingga dapat mengurangi biaya operasional, biaya konstruksi dan luas fasilitas jika diterapkan dalam kombinasi yang terdiri dari pretreatment biologi, koagulasi kimia dan oksidasi elektrokimia.
Perlakuan biologis dalam skala laboratorium adalah dalam reaktor 4,5 l (dengan volumen keja 3 l) dan pilot plant 1800 l (volumen kerja 1420 l) dan berat kering mikroorganisme yang diinokulasikan ke reaktor 1200 mg. Waktu retensi hidaulik dibuat konstan 2 hari. Dalam proses ini koagulan kimia yang digunakan adalah FeCl3.6H2O 3,25 x 10-3 mol/l dengan kondisi reaksi pada pH 6. Oksidasi elektrokimia dengan konsentrasi elektrolit NaCl 25 mM densitas 2,1 mA/cm2 dan laju aliran 0,7 l/menit.
Dalam skala laboratorium, inokulasi aeromonas salmonicida dan Pseudomonas vesicularis dengan media pendukung mampu menurunkan COD dari 750 mg/l menjadi 272 mg/l, sedang pada control mencapai 499 mg/l dan tanpa media pendukung 431 mg/l setelah 6 hari. Reduksi COD umumnya terhenti/relatif stabil antara 2 – 3 hari setelah inokulasi.
Dalam skala pilot plant reduksi COD dan warna terjadi pada mikroorganisme tanpa pendukung. COD turun 38,2 % dan warna 27,4 % setelah 5 hari pada perlakuan biologis. Pada perlakuan dengan media pendukung COD turun 68,8% dan warna 54,5 % sehingga terjadi perbaikan reduksi COD 30,6 % dan warna 27,1 %. Selama operasional konsentrasi DO dijaga 3 – 4 mg O2/l.
Jika digunakan media pendukung, konsentasi MLSS meningkat 3 kali lipat menjadi 570 mg/l dan hanya sekitar 27 % MLSS yang tersuspensi. Tanpa media pendukung sebesar 210 mg/l. Pada proses Lumpur aktif konvensional, membutuhkan MLSS 300 – 400 mg/l sehingga proses ini menunjukkan efektivitas yang tinggi dengan konsentrasi MLSS yang rendah.
PENUTUP

            Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa limbah tekstil mengakibatkan pencemaran pada tanah dan air dimana pencemaran itu akan mengakibatkan penurunana kualitas tanah dan air. Jika hal ini dibiarkan terus menerus tanpa ada pengendalian dari pemilik perusahaan maka akan sangat merugikan penduduk sekitar. Pabrik itu harus punya tempat penampungan untuk menampung limbah bekas pencucian, pencelupan, dan pewarnaan. Sebelum limbah dibunag di sungai air tersebut harus diolah terlebih dahulu untuk meminimalisir timbulnya penyakit akibat zat – zat yang terkandung dalam air limbah.
            Oleh karena itu kita harus menjaga lingkungan-lingkungan disekitar kita agar tidak tercemar, terutama air, karena air sangat penting untuk membantu melakukan kegiatan sehari-hari. Air adalah sumber kehidupan, dan untuk pabrik –pabrik yang menimbulkan limbah sebaiknya tidak di buang sembarangan selain itu limbah juga bisa diolah supaya tidak membuat air tercemar. Penggunaan media pendukung juga mengefisienkan waktu.
           

DAFTAR PUSTAKA

Di akses tanggal 20 Oktober 2012 pukul 10:58
Diakses tanggal 20 Oktober 2012 pukul 11:02
Di akses tanggal 22 Oktober 2012 pukul 15:45
Di akses tanggal 22 Oktober 2012 pukul 15:48
Di akses tanggal 22 Oktober 2012 pukul 15:53

No comments:

Post a Comment