DEGRADASI LAHAN
AKIBAT
PENCEMARAN LIMBAH PABRIK TEKSTIL
PT BATIK KERIS
SUKOHARJO
PENDAHULUAN
Sekarang
– sekarang ini banyak terjadi fenomena alam di sekitar kita. Tanpa kita sadari
fenomena alam itu telah mengahimpiri kita seperti bencana alam banjir, longsor,
gunung meletus dan masih banyak lagi. Bencana alam ini dapat disebabkan karena
proses alami dan akibat aktifitas manusia. Dengan adanya bencana alam ini dapat
menyebabkan degradasi lingkungan, dimana akan mempengaruhi kualitas tanah,
kualitas air, dan lingkungan sekitar.
Degradasi
lingkungan ini dapat terjadi dimanapun, karena di setiap aktifitas manusia
pasti akan menimbulkan atau mengakibatkan degradasi (penurunan). Sebagai contoh
kita dapat mengetahui bahwa setiap harinya manusia pasti akan mengahasilkan
sampah, dimana sampah tersebut dapat mengakibatkan degradasi lahan (penurunana
kualitas tanah) jika sampahnya plastik yang tidak mudah terurai, hal ini
berbeda dengan limbah yang dihasilkan oleh pabrik.
Dalam perkembangan teknologi yang
semakin maju dan banyaknya industri dapat menyebabakan degradasi lingkungan
dimana banyak pembangunan pabrik yang tidak terkontrol dan tidak
mempertimbangkan akibatnya seperti imbah yang akan di hasilkan. Limbah yang di
hasilkan pabrik dapat menyebabkan penurunan kualitas tanah dan penurunan
kualitas air. Jika hali ini berlangsung teruss menerus maka akan mempengaruhi
penduduk setempat. Limbah pabrik mengakibatkan pencemaran air di sungai dengan
berubahnya warna sungai menjadi warna tekstil, misalnya merah, biru, kuning
dll. Serta juga dapat mempengaruhi kualitas lahan khususnya pertanian dimana
lahan tersebut digunakan untuk menanam makanan pokok kita. Jika pemilik pabrik
tidak mempertimbangkan hal ini bagaimana nasib kita kedepannya, jika kita
mengkonsumsi makanan dari lahan yang tercemar tersebut. Ini juga mengurangi
produktifitas lahan.
Fenomena
alam yang pencemaran oleh limbah pabrik tekstil menyebabkan degradasi lahan. Degradasi
lahan merupakan proses geomorfologi yang cenderung menurunkan permukaan bumi.
Penurunan permukaan bumi dapat terjadi akibat erosi dan mass wasting.
Degradasi lahan dapat dipicu oleh beberapa faktor yang bersifat alami dan
aktivitas manusia.
Barrow (1991) mendefinisikan degradasi lahan sebagai
hilangnya atau berkurangnya kegunaan atau potensi kegunaan lahan untuk
mendukung kehidupan. kehilangan atau perubahan kenampakkan tersebut menyebabkan
fungsinya tidak dapat diganti oleh yang lain. Degradasi lahan akan berdampak
baik bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Degradasi lahan akan mengakibatkan
penurunan produktivitas, migrasi, ketidakamanan pangan, bahaya bagi sumberdaya
dan ekosistem dasar, serta kehilangan biodiversitas melalui perubahan habitat
baik pada tingkat spesies maupun genetika. Selain itu degradasi lahan akan
berdampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang bergantung pada lahan
sebagai sumber penghidupannya berupa meningkatnya angka kemiskinan. Degradasi
lahan adalah proses penurunan proses produktivitas lahan, baik yang sifatnya
sementara maupun tetap
Degradasi lahan secara umum
disebabkan oleh proses alami dan akibat aktivitas manusia. Barrow (1991) secara
lebih rinci menyatakan bahwa faktor-faktor utama penyebab degradasi lahan
adalah:
a) Bahaya alami
b) Perubahan jumlah populasi manusia
c) Marjinalisasi tanah
d) Kemiskinan
e) Status kepemilikan tanah
f) Ketidakstabilan politik dan masalah
administrasi
g) Kondisi sosial ekonomi
h) Masalah kesehatan
i)
Praktek
pertanian yang tidak tepat, dan
j)
Aktifitas
pertambangan dan industri.
Degradasi lahan disebabkan oleh 3
(tiga) aspek, yaitu aspek fisik, kimia dan biologi. Degradasi secara fisik
terdiri dari pemadatan, pengerakan, ketidakseimbangan air, terhalangnya aerasi,
aliran permukaan, dan erosi. Degradasi kimiawi terdiri dari asidifikasi,
pengurasan unsur hara, pencucian, ketidakseimbangan unsur hara dan keracunan,
salinisasi, dan alkalinisasi. Sedangkan degradasi biologis meliputi penurunan
karbon organik tanah, penurunan keanekaragaman hayati tanah, dan penurunan
karbon biomas.
Proses
degradasi lahan dapat mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung
maupun tidak langsung. Terjadinya pencemaran dapat menyebabkan tanah menjadi
tidak subur sehingga tidak dapat ditanami. Akibatnya produksi pertanian akan
menurun dan biaya produksi akan meningkat karena perlu penanganan khusus. Jika
biaya produksi pertanian tinggi dan hasilnya menurun berimbas terhadap petani
akan merugi. Dampak degradasi lahan juga dapat terjadi di lingkungan kota
maupun desa.
Kerusakan
lingkungan yang terjadi di kota disebabkan salah satu karena
besarnya arus urbanisasi. Kebiasaan penduduk membuang sampah di mana-mana
menjadi kebiasaan buruk masyarakat perkotaan. Minimnya daur ulang sampah di
kota mengakibatkan bermacam-macam kerusakan.
Diantaranya tidak tersedianya air minum dan tempat tinggal yang bersih. Hal
tersebut dapat menyebabkan terjangkitnya berbagai macam penyakit seperti kolera
dan demam berdarah.
Kerusakan
lingkungan kota lainnya adalah terjadinya banjir dan kenaikan
jumlah penduduk yang mengakibatkan meningkatnya pengangguran dan kriminalitas.
Sedangkan kerusakan lingkungan di pedesaan terlihat adanya perluasan lahan
pertanian dengan cara-cara yang tidak tepat, seperti penebangan hutan secara
liar. Hutan mempunyai fungsi sebagai pelindung tanah. Ketika hutan berfungsi
lagi maka terjadilah erosi yang sangat merugikan bagi masyarakat di sekitarnya.
Sekarang
ini tidak dikota maupun di desa sama saja sudah banyak pencemaran air dan
pencemaran tanah yang diakibatkan oleh limbah pabrik. Sebagai contoh PT Batik
Keris, dimana pabrik ini merupakan pabrik tekstil yang ada di sukoharjo. Pabrik
ini mengolah bahan mentah menjadi barang jadi, sehingga dapat kita ketahui
pasti ada limbah yang dihasilkan oleh pabrik tersebut.
Pabrik
PT Batik keris ini terletak di tengah – tengah permukimana warga setempat dan
dekat dengan sungai, sehingga limbah dari pabrik ini dapat mencemari kualitas
air yang ada di sekitar pabrik tersebut. Misalnya limbah tersebut mempengaruhi
warna air sungai terdekat.
Pencemaran
air adalah suatu
perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan, dan air tanah akibat
aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting
dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus
hidrologi. Akibat dari pencemaran air sangat merugikan yaitu: dapat menyebabkan
banjir, erosi, kekurangan sumber air, membuat sumber penyakit, tanah
longsor,dapat merusak ekosistem sungai, kerugian untuk nelayan. Pencemaran air
disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Salah
satu sebab pencemaran air adalah pencemaran air karena limbah industri
tekstil. Untuk itu saya akan membahas mengapa limbah industri tekstil bisa
menyebabkan pencemaran air.
Pencemaran lingkungan akibat industri tekstil di PT Batik Keris adalah berupa
pencemaran debu yang dihasilkan dari penggunaan mesin berkecepatan tinggi dan limbah
cair yang berasal dari tumpahan dan air cucian tempat pencelupan larutan kanji
dan proses pewarnaan. Zat warna tekstil merupakan gabungan dari senyawa
organic tidak jenuh, kromofor, dan auksokrom sebagai pengaktif kerja kromofor
dan pengikat antara warna dengan serat. Kandungan limbah yang dihasilkan dari
proses pewarnaan tergantung pada pewarna yang digunakan. Limbah-limbah yang
dihasilkan suatu industri, akan dialirkan ke kolam-kolam penampungan dan
selanjutnya dibuang ke sungai. Limbah tekstil merupakan limbah yang dihasilkan
dalam proses pengkanjian, penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan,
merserisasi, pewarnaan, pencetakan dan proses penyempurnaan.
Gabungan air limbah pabrik tekstil
di Indonesia rata-rata mengandung 750 mg/l padatan tersuspensi dan 500 mg/l
BOD. Perbandingan COD : BOD adalah dalam kisaran 1,5 : 1 sampai 3 : 1. Pabrik
serat alam menghasilkan beban yang lebih besar. Beban tiap ton produk lebih
besar untuk operasi kecil dibandingkan dengan operasi modern yang besar,
berkisar dari 25 kg BOD/ton produk sampai 100 kg BOD/ton. Informasi tentang
banyaknya limbah produksi kecil batik tradisional belum ditemukan.
Jenis-jenis limbah :
a)
Logam berat terutama As, Cd, Cr, Pb, Cu, Zn.
b)
Hidrokarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan
finishing)
c)
Pigmen, zat warna dan pelarut organic
d)
Tensioactive (surfactant)
Terjadinya pencemaran air, akan
menggangu kehidupan ikan-ikan yang ada di dalamnya, menurunnya kualitas
perairan, sehingga daya dukung perairan tersebut terhadap organisme akuatik
yang hidup di dalamnya akan turun. Masalah pencemaran air menimbulkan berbagai
akibat, baik yang bersifat biologic, fisik maupun kimia.
Oleh karena
itu kita harus menjaga lingkungan-lingkungan disekitar kita agar tidak
tercemar, terutama air, karena air sangat penting untuk membantu melakukan
kegiatan sehari-hari. Dan untuk pabrik-pabrik yang menimbulkan limbah sebaiknya
tidak di buang sembarangan selain itu limbah juga bisa diolah supaya tidak
membuat air tercemar.
PT Batik
Keris harus mempertimbangkan juga dengan limbah yang akan di hasilkan itu
mempengaruhi penduduk sekitar atau tidak. Pengolahan limbah itu harus melalui
proses terlebih dahulu sebelum di buang atau di alikan ke sungai untuk
meminimalisir pencemaran sungai yang akan diakibatkannya.
Bahan – bahan yang digunakan untuk membuat produk tekstil
juga mengandung bahan – bahan berbahaya. Limbah tekstil diketahui memiliki
padatan tersuspensi dalam jumlah yang banyak, warna yang kuat, pH yang sangat
berfluktuatif, suhu tinggi dan konsentrasi COD yang tinggi. Polutan utama dalam
limbah tekstil berasal dari proses pewarnaan dan finishing yang melibatkan
pewarna baik sintetis maupun alami agar dihasilkan warna yang permanen.
Banyak metode yang digunakan dalam perlakuan limbah tekstil.
Metode-metode tersebut diantaranya koagulasi kimia, oksidasi elektrokimia,
filtrasi dan biologi. Beberapa metode dikembangkan baik secara individu maupun
kombinasi. Proses-proses individu memiliki banyak problema. Sebagai contoh,
dalam proses koagulasi kimia sejumlah besar Lumpur dapat dihasilkan dan
kapabilitas perlakuan rendah. Oksidasi elektrokimia dapat mereduksi polutan
namun meningkatkan biaya perlakuan. Perlakuan biologis lebih sulit karena
membutuhkan bioreaktor spesifik. Oleh sebab itu kombinasi proses dianggap lebih
baik.
Isolat mikroorganisme (Aeromonas sp dan Pseudomonas sp) dapat
mengurangi pewarna dari limbah cair secara efektif dan tidak membutuhkan kolam
Lumpur aktif sehingga dapat mengurangi biaya operasional, biaya konstruksi dan
luas fasilitas jika diterapkan dalam kombinasi yang terdiri dari pretreatment
biologi, koagulasi kimia dan oksidasi elektrokimia.
Perlakuan biologis dalam skala laboratorium adalah dalam
reaktor 4,5 l (dengan volumen keja 3 l) dan pilot plant 1800 l (volumen kerja
1420 l) dan berat kering mikroorganisme yang diinokulasikan ke reaktor 1200 mg.
Waktu retensi hidaulik dibuat konstan 2 hari. Dalam proses ini koagulan kimia
yang digunakan adalah FeCl3.6H2O 3,25 x 10-3 mol/l dengan kondisi reaksi pada
pH 6. Oksidasi elektrokimia dengan konsentrasi elektrolit NaCl 25 mM densitas
2,1 mA/cm2 dan laju aliran 0,7 l/menit.
Dalam skala laboratorium, inokulasi aeromonas salmonicida dan
Pseudomonas vesicularis dengan media pendukung mampu menurunkan COD dari 750
mg/l menjadi 272 mg/l, sedang pada control mencapai 499 mg/l dan tanpa media
pendukung 431 mg/l setelah 6 hari. Reduksi COD umumnya terhenti/relatif stabil
antara 2 – 3 hari setelah inokulasi.
Dalam skala pilot plant reduksi COD dan warna terjadi pada
mikroorganisme tanpa pendukung. COD turun 38,2 % dan warna 27,4 % setelah 5
hari pada perlakuan biologis. Pada perlakuan dengan media pendukung COD turun
68,8% dan warna 54,5 % sehingga terjadi perbaikan reduksi COD 30,6 % dan warna
27,1 %. Selama operasional konsentrasi DO dijaga 3 – 4 mg O2/l.
Jika digunakan media pendukung, konsentasi MLSS meningkat 3
kali lipat menjadi 570 mg/l dan hanya sekitar 27 % MLSS yang tersuspensi. Tanpa
media pendukung sebesar 210 mg/l. Pada proses Lumpur aktif konvensional,
membutuhkan MLSS 300 – 400 mg/l sehingga proses ini menunjukkan efektivitas
yang tinggi dengan konsentrasi MLSS yang rendah.
PENUTUP
Dari penjelasan di atas dapat kita
ketahui bahwa limbah tekstil mengakibatkan pencemaran pada tanah dan air dimana
pencemaran itu akan mengakibatkan penurunana kualitas tanah dan air. Jika hal
ini dibiarkan terus menerus tanpa ada pengendalian dari pemilik perusahaan maka
akan sangat merugikan penduduk sekitar. Pabrik itu harus punya tempat
penampungan untuk menampung limbah bekas pencucian, pencelupan, dan pewarnaan.
Sebelum limbah dibunag di sungai air tersebut harus diolah terlebih dahulu
untuk meminimalisir timbulnya penyakit akibat zat – zat yang terkandung dalam
air limbah.
Oleh karena itu kita harus menjaga
lingkungan-lingkungan disekitar kita agar tidak tercemar, terutama air, karena
air sangat penting untuk membantu melakukan kegiatan sehari-hari. Air adalah
sumber kehidupan, dan untuk pabrik –pabrik yang menimbulkan limbah sebaiknya
tidak di buang sembarangan selain itu limbah juga bisa diolah supaya tidak
membuat air tercemar. Penggunaan media pendukung juga
mengefisienkan waktu.
DAFTAR
PUSTAKA
Di
akses tanggal 20 Oktober 2012 pukul 10:58
Diakses
tanggal 20 Oktober 2012 pukul 11:02
Di
akses tanggal 22 Oktober 2012 pukul 15:45
Di
akses tanggal 22 Oktober 2012 pukul 15:48
Di
akses tanggal 22 Oktober 2012 pukul 15:53
No comments:
Post a Comment